..:: Welcome...Huanying Guanglin...Hwangyong-hamnida... Assalamualaikum...Selamat Datang di Web Pertama Q, Silakan Jelajahi Web Ini dan Jangan Lupa Untuk Membaca Bismillah::..

Karakteristik Pemimpin

Tidak mudah menjadi pemimpin. Juga tidak mudah memilih pemimpin. Ini akan dialami oleh suatu masayarakat yang rusak. Masyarakat yang para pemimpin dan politisinya menjadikan Book of The Prince sebagai kitab suci mereka dan Machiavelli sebagai panutan mereka. Masyarakat yang memberikan kesempatan pada orang-orang bodoh tampil bicara. Agar kita tidak terjatuh pada kondisi buruk, maka perlu dibentuk kesadaran umum (public awaraness) tentang karakteristik pemimpin yang layak mengurus publik. Tulisan ini mencoba memberikan sumbangsih pemikiran untuk itu.


Tanggung Jawab Pemimpin

Kepemimpinan adalah amanat untuk mengurus orang-orang atau rakyat yang dipimpin. Amanat merupakan suatu kewajiban yang mutlak harus dilaksanakan. Karena menyianyiakan amanat termasuk bencana besar dan merupakan kehancuran. Apalagi seorang pemimpin telah mengumbar janji-janji manisnya pada saat masa kampanye. Dan apabila janji-janji itu tidak ditepati, maka itu merupakan suatu yang sangat berat yang harus dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak nanti. Waspadalah terhadap janji-janji manismu wahai para pengumbar janji…!!!


pemimpin yang layak adalah yang punya dimensi tanggung jawab hingga ke akhirat. Tentu yang dimaksud bukanlah rohaniawan yang tak cakap mengurus dunia. Juga bukan pemimpin sekuler yang tak tahu urusan akhirat. Pemimpin sekuler, yang memisahkkan agama dari urusan dunia atau negara jelas merasa bebas berbuat, karena merasa tidak perlu dipertanggungjawabkan kepada Allah. Pertanggungjawaban di dunia itu semu belaka, sebab tergantung banyaknya suara dukungan. Pemimpin yang pandai menjaga dukungan mayoritas suara, dia tidak akan pernah ditolak pertanggungjawabannya.


Jika kita sepakat bahwa pemimpin yang layak memimpin manusia adalah pemimpin yang punya rasa tanggung jawab dunia akhirat, maka bagaimana karakteristik pemimpin itu sehingga dia bisa melaksanakan tanggung jawabnya.


Karakteristik Pemimpin

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang pemimpin




Berkepribadian kuat.

Seorang pemimpin harus kuat, tidak lemah. Orang lemah tidak pantas menjadi pemimpin. Kuat dan lemah yang dimaksud adalah kekuatan kepribadian (syakhshiyyah), yakni pola pikir (aqliyyah) dan pola jiwanya (nafsiyyah). Oleh karena itu, pola pikir seorang pemimpin harus menyatu dengan kepemimpinannya. Dengan itu dia dapat memahami berbagai masalah yang menjadi tanggung jawabnya. Demikian juga, pola jiwanya juga harus menyatu dengan kepemimpinannya. Dengan itu dia akan menyadari bahwa dia seorang pemimpin, sehingga dia dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungannya sebagai pemimpin


Bertakwa.

Karena kekuatan kepribadian seorang pemimpin sangat berpengaruh pada kepemimpinannya, maka seorang pemimpin harus memiliki kualitas yang mampu menjauhkannya dari pengaruh-pengaruh buruk. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki sifat takwa pada dirinya, baik secara pribadi, maupun dalam hubungannya dengan tugas dan tanggung jawabnya memelihara urusan rakyat. Seorang pemimpin yang bertakwa akan senantiasa menyadari bahwa Allah senantiasa memonitornya (muraqabah) dan dia takut kepada-Nya, sehingga dengan demikian dia akan menjauhkan diri dari sikap sewenang-wenang (zalim) kepada rakyat maupun sikap abai terhadap urusan urusan rakyat.


Belas kasih.

Seorang pemimpin harus punya sifat belas kasih kepada rakyatnya. Ini diwujudkan secara konkrit dengan sikap lembut dan kebijaksanaannya yang tidak menyulitkan rakyatnya


jujur dan penuh perhatian.

Seorang pemimpin haruslah jujur dan penuh perhatian dalam mengurus urusan rakyat sehingga rakyat bisa terpenuhi kebutuhan mereka dan menikmati layanan pemimpinnya.


istiqamah memerintah.

Seorang pemimpin yang jujur memimpin kaum muslimin akan melaksanakan pemerintahannya berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah-Nya



Kita berharap lima karakteristik kepemimpinan di atas menjadi kesadaran dan opini umum masayarakat sehingga aspirasi dan kecenderungan rakyat adalah memilih pemimpin yang berkarakter seperti itu..

..... Baca Selengkapnya

Kasih Sayang di Jalan Simpang

Hingar bingar Valentine’s Day sudah mulai nampak. Di sana sini mulai digelar berbgai atribut dan slogan yang menyuarakan hari yang bertajuk kasih sayang tersebut. Banyak di antara kamu yang juga heboh ikutan wara-wiri nyiapin segala hal yang bernuansa merah jambu. Pakaian ke pesta Val Day yang oke punya. Ngedate di tempat nongkrong yang nggak bikin bete. Nggak lupa kado isti­mewa buat yayang tercinta; mulai dari sekadar ngasih coklat sampe ngasih hadiah berupa HP keluaran terbaru (ada nggak ya yang manas-manasin dengan ngasih foto gacoan baru. Walah, itu mah ngajak perang dong). Pokoknya, setiap tanggal 14 Feb­ruari, nyaris seluruh remaja sejagat ngerayain hari “pink” sedunia, yang memang full of love ini.

Di hari itu, seolah semua remaja ber­seru; “Katakan cinta kamu dengan manis dan romantis!” Itu sebabnya, beragam ungkapan rasa cinta bisa diwujudkan. Lewat kata, juga dengan tulisan. Malah ada yang bilang kalo cinta juga bisa dikatakan dengan bunga (apalagi bunga deposito, yang matre mah bakalan ijo tuh matanya). Cinta, ada yang bilang, bisa diung­kapkan dengan puisi. Apalagi puisinya sekeren puisi manis dan romantisnya Romeo untuk merayu Juliet. Kisah cinta ini selalu jadi impian setiap remaja. Maklum, kisah rekaan William Shakespeare ini mampu mengguncang dunia. Banyak orang mengakui bahwa Romeo and Juliet adalah kisah cinta yang paling romantis dalam sejarah peradaban manusia. Sehingga banyak yang pengen ngambil hikmahnya. Kagak tahan bo..!

Nah, saking istimewanya hajatan Valen­tine’s Day, ampir semua stasiun televisi bikin acara yang ada sangkut-pautnya dengan urusan cinta. Saat ini sebagian besar teman remaja merasa bahwa Valentine’s Day adalah hari yang pas buat mencurahkan kasih sayang sama pacarnya. Val Day adalah momen yang tepat untuk ngebuktiin cintanya kepada sang kekasih. Kesetiaan bakalan terukur di hari penuh bahagia itu. Siapa yang peduli sama gandengannya, dialah yang setia setiap saat (Rexona kali…). Pokoknya sehidup semati deh.

Itu sebabnya banyak teman remaja yang udah heboh sejak awal bulan Februari ini. Seperti bakal menyambut tamu agung aja. Nggak rela rasanya kalo hari kasih sayang itu cuma lewat begitu saja tanpa kesan yang mendalam bersama sang idaman hati. Val Day memang jadi ajang paling heboh untuk menunjukkan rasa cinta. Maka jangan heran bin kaget kalo majalah dan tabloid remaja juga ikut berlomba ngasih tips untuk ngedate, untuk pdkt, sampe model kado paling asoy buat si doi. Semua disajikan dengan kemasan istime­wa. Val Day menjelma jadi semacam ritual cinta.

Sebentar…tapi tahukah kamu dengan asul-usul acara Valentine’s Day? Jangan-jangan hajatan rutin tahunan yang digarap remaja kontemporer ini ternyata malah tulalit dengan latar belakang sejarah awal mulanya perayaan ini. Nah lho. Terus ngapain neh kita? Sabar, kamu perlu tahu yang satu ini…


Sekilas Valentine’s Day

Kamu tentunya bakalan kaget en terbengong-bengong kalo ternyata acara Valentine’s Day nggak ada sama sekali dalam ajaran Islam. Suer... Kagak bohong. Ternyata ma­lah kebiasaan para penyembah berhala. Kaum pagan ini, mengadakan ritual penyem­bahan kepada para dewa yang diyakini menjadi sumber kehidupan manusia di muka bumi ini.

Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Februari yang diberi nama Lupercalia. Peringa­tan ini adalah seba­gai penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Laki dan perempuan ber­kumpul, lalu saling memilih pasangan­nya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi!

Seiring dengan berjalannya waktu, pihak gereja yang waktu itu agama Kristen mulai menyebar di Romawi memindahkan upacara peng­hormatan terhadap berhala itu menjadi tanggal 14 Februari. Dan dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati berhala, tapi meng­hormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Konon kabarnya gara-gara ia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Itu terjadi sekitar tahun 273 Masehi. Nama acaranya pun bukan lagi Luper­calia, tapi Saint Valentine. Dalam perkem­bangannya, peristiwa tersebut lalu dikaitkan dengan gebyar Valentine’s Day.

Jadinya, alih-alih acara itu dirayakan untuk menghormati perjuangan para rahib mereka, tapi udah berubah total menjadi ritual ‘mendewakan’ cinta. Cinta antar lawan jenis. Waduh, sudahlah bukan berasal dari Islam, eh, jadi ajang baku syahwat yang dilarang agama. Weleh-weleh, pastinya kamu yang ikut-ikutan dalam hajatan Valentine’s Day itu ternyata merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Nggak tahu, apa nggak mau tahu?

Padahal, Islam udah wanti-wanti lho untuk tidak asal ikut aja segala sesuatu yang kamu belum tahu tentangnya. Makanya kamu nggak boleh latah ikut-ikutan budaya yang bukan berasal dari Islam. Nggak bener dan memang nggak baik. Bahkan kewajiban kamu adalah mengamalkan (ajaran) Islam, bukan ajaran kaum atau peradaban lain. Karena tentu saja, dengan adanya globalisasi ini musuh-musuh Islam sengaja membuat jalan agar kaum muslimin khususnya remaja untuk mengikuti kehendak mereka. Ini jelas sangat berbahaya. Karena bila kita masuk perangkap mereka, alamat hidup kita ancur-ancuran. Nah, termasuk dalam urusan Valentine’s ini. Karena pesta itu adalah bagian dari globalisasi budaya mereka. Ya, itulah gaya hidup mereka yang sengaja disusupkan ke benak kaum muslimin khususnya remaja.

Sekali lagi, pesta Valentine’s adalah bagian dari ekspansi budaya global. Dan sayangnya, pesta itu merupakan rencana jahat mereka untuk menghancurkan kepribadian Islam kita. Jangan salah, lho. Di balik ‘senyum manisnya’ tersimpan kebusukan. Hati-hati... Ingat Pesan Bang Napi.. Waspadalah...Waspadalah...”

..... Baca Selengkapnya

Pemilu; Melanggengkan Demokrasi!

Bagi kamu yang udah usia 17 tahun ke atas, kayaknya tahun ini punya hak untuk milih ya? Ehm, bukan cuma milih calon pasangan hidup, tapi juga milih mereka yang katanya mau memimpin negeri ini. Oke, jangan terburu-buru menggunakan hak pilih, jangan asal pilih, dan yang penting, jangan ikut-ikutan saja. Kudu ngeh segalanya. Setuju? Kudu! Musti! Harus!

Pesta demokrasi lima tahunan ini selalu menyita perhatian kita, selalu bikin was-was kalau suatu saat rusuh, selalu bikin meriah karena kita dapetin jatah dari parpol kontestan Pemilu, dan selalu mengumbar janji tanpa bukti. Suer, kagak bohong. Sumpeh Lo!

Ehm, kalau mau melek sedikit saja, kita bisa temuin tuh banyak para jurkam, alias juru kampanye. Para jurkam sampe berbusa-busa menyampaikan pidatonya. Janji inilah, janji itulah. Pokoknya, bikin janji sebanyak-banyak-nya. Tapi buktinya? “Kau yang berjanji, kau yang mengingkari…” Eh, dangdut banget neh!

Sebagian janjinya memang ditepati, tapi lebih kepada hal-hal teknis. Itu pun sebagai penghibur saja, setelah kemauannya tercapai. Di jaman baheula, jaman kuda masih gigit besi, he5... jamannya penulis kecil duyu, ada partai besar yang berkuasa saat itu. Kalo masuk desa, selalu saja para jurkamnya menjanjikan akan masuk listrik dan jalan akan diaspal untuk desa saya. Tapi ada syaratnya, yakni kudu milih partai tersebut dalam Pemilu. Pamrih banget nggak tuh??

Kontan saja, bagi rakyat jelata yang memang mendambakan semua itu, nggak pikir panjang lagi, apalagi tugasnya gampang banget, cuma nyoblos tanda gambar partai tersebut. Itu sebabnya, ketika di desa itu partai tersebut menang, nggak lama listrik masuk, jalan diaspal. Janjinya ditepati. Harapan para petinggi partai tersebut, lima tahun mendatang tetep bakal dipilih. Langgeng deh jadi penguasa.

Saat ini, haruskah semua ini terjadi lagi? Sayangnya, gejala ke arah sana sejelas siang hari tanpa mendung alias nyata banget. Partai-partai melakukan kampanye simpatik dengan membagi-bagikan sembako, malah ada yang menyediakan pangkas rambut gratis. Tujuan mulianya, untuk menarik calon pemilih berpaling ke partainya. Supaya nanti pas pemilu mencoblos gambar partai dan juga calegnya. Kalo yang nyoblos jumlahnya ribuan, apalagi jutaan, maka itu jelas akan menambah suara dukungan kepada partainya. Sambil berharap dapet suara mayoritas.

Jangan mau ditipu lagi dengan janji-janji manis. Nantikan, bahwa pepatah “habis manis sepah dibuang” akan populer pasca Pemilu. Belive it or Not (Percaya atau tidak), kamu harus percaya. Sudah banyak buktinya. Apa mau dibohongi lagi? Apa rela dikhianati lagi? “Cukup sekali.. aku merasa.. “ eh, kok malah nyanyi dangdut lagi he5...

Mungkin di antara kamu ada yang protes bahwa Pemilu sekarang beda. Apalagi Pemilu sekarang diikuti beberapa partai Islam yang tegas memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam dan syariat Islam. Kasihan dong kalo nggak dipilih, nanti partai sekular yang berkuasa lagi. Gimana tuh?


..... Baca Selengkapnya

Dicari: Pemimpin Sejati!

Rame-rame soal pemimpin masa depan negeri ini kayaknya udah jadi bahan perbincangan kita-kita juga deh. Obrolan seputar calon presiden mendadak jadi menu sehari-hari kita. Soalnya pemilu dan pemilihan presiden langsung udah diambang pintu. Itu sebabnya nggak heran dong kalo sampe dibahas di media cetak maupun elektronik.

Sebagai remaja, mau nggak mau kita juga kudu ngeh yang satu ini. Emang sih itu udah wilayahnya politik. Tapi apa kita salah ngomong politik? Remaja juga kudu sadar politik dong. Biar kita bisa tahu masalah apa saja yang sedang dihadapi masyarakat kita. Kalau kamu nongkrongnya di MTV doang, maka kamu cuma ngeh kehidupan selebriti. Itu pun sebatas musik dan lagu. Paling banter soal gaya hidupnya. Padahal, masalah kita nggak cuma kudu ngeh soal itu, tapi seluruh persoalan kehidupan lengkap dengan jawabannya.

Any way busway, ngomongin calon pemimpin masa depan negeri ini nggak lepas dari yang namanya intrik politik. Wuih.. dalem banget dah! Bahkan sebetulnya dalam sistem kehidupan yang ada sekarang, lebih mengarah kepada pertarungan memperebutkan kekuasaan untuk mempertahankan kepentingan individu dan gengnya. Itu pun always berbalut niatan dapetin yang namanya duit. Maklumlah, siapa sih yang nggak nelen ludah kalo bicara urusan tahta dan harta.

Kalau pun ada yang punya niat agak mendingan seperti yang diusung partai politik yang mengaku berbasis Islam, tapi itu juga kalah bersaing. Bahkan ikut-ikutan tenggelam dalam hiruk-pikuk politik ‘tak bermoral’ yang jadi trademark negara-negara yang mengamalkan kapitalisme. Jadinya, wes ewes ewes bablas cita-citane!


Punya pemimpin yang oke segala-galanya emang udah jadi impian kita selama ini. Sebagai remaja yang peduli terhadap masa depan umat, punya harapan seperti ini tentunya wajar dan bahkan kudu. Kita udah capek banget dengan kondisi kehidupan sekarang. Suer, kriminalitas makin marak, kasus kejahatan seksual juga makin menumpuk nggak bisa diselesaikan, ekonomi awut-awutan, urusan politik udah kayak benang kusut. Pokoknya, lengkap sudah penderitaan kita. Bahkan mungkin sepertinya bakalan langgeng. Weleh-weleh…

Tapi, selesaikah persoalan dan langsung dapet jawaban kalo kita punya pemimpin yang baik dan oke segalanya? Cukupkah perjuangan kita sebatas ikutan polling rame-rame via SMS atau website untuk milih partai dan calon presiden yang disukai, sekaligus diharapkan jadi kebanggaan kita? Jalan masih panjang bung. Bahkan kita harusnya mikirin juga akar masalah yang mendera negeri ini.

Hadirnya pemimpin yang baik emang salah satu upaya kita menyelesaikan masalah. Tapi masalah utamanya adalah seberapa pantas sistem kapitalisme ini mengatur kehidupan sebuah masyarakat dan negara? Ehm, sayangnya kita kudu bilang bahwa sistem buatan manusia ini udah nggak laku lagi. Buktinya nggak becus ngurus kehidupan. Tengok deh, di negeri ini aja sejak pemimpin yang pertama sampe yang sekarang, selalu kolaps dengan sukses! Jadinya, buat apa dipake terus kalo udah terbukti USG alias Usahanya Selalu Gagal. Selama sistem kapitalisme dengan demokrasinya masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, maka hadirnya pemimpin sejati cuma mimpi kali yee…


..... Baca Selengkapnya

Hiruk-pikuk kampanye Pemilu

Masa kampanye menjadi saat yang paling dinanti oleh masyarakat. Di sinilah tempatnya untuk ngasih dukungan kepada para kontestan pemilu. Sekaligus ajang yang pas buat nyari kaos atau souvenir gratisan. Asyiknya lagi, banyak calon wakil rakyat yang tiba-tiba jadi dermawan. Mereka rela merogoh kocek buat rehab mushola, bantuan sembako, sampe biaya bangun TPS demi menjaring simpati masya-rakat. Para peserta pemilu juga gencar bikin acara bakti sosial, panggung musik, tempel stiker, pasang spanduk sampe konvoi kenda-raan bermotor. Pokoknya meriah euy!
Biar kampanye sukses, pasti yang satu ini nggak boleh ketinggalan dan kudu ngalir deras. Yup, apa lagi kalo bukan: duit! Benda ini memang ajaib. Bisa masang spanduk, nempelin poster, diriin warung, bikin souvenir sampe pengerahan massa. Makanya nggak heran kalo tim sukses kontestan pilpres getol berekspedisi mencari penampakkannya.
Kalo menurut UU Pilpres, dana kampanye Pilpres berasal dari 3 sumber yaitu dari capres sendiri, dari parpol yang mencalonkan dan dari pihak lain yang tidak mengikat seperti perseorangan dan badan usaha. Dari semua sumber, kayaknya aliran dana dari pihak ketiga yang mendominasi. Malah bisa meli-batkan pihak asing. Nah lho?
Biasanya aliran dana asing itu berasal dari pengusaha-pengusaha Cina, AS, dan Eropa yang punya kepentingan bisnis di Indonesia. Mereka ini sangat menginginkan pemimpin Indonesia yang bisa menstabilkan kondisi ekonomi dan keamanan di dalam negeri, untuk mengamankan bisnis mereka di Indonesia.
Masa kampanye pemilu pun nggak luput dari pelanggaran. Ini yang bikin KPU pusing tujuh keliling lapangan senayan. Dalam pilkada saja, banyak sekali pelanggaran-pelanggaran pemilu yang dilakukan. Mulai dari pelanggaran saat kampanye, pelanggaran administrasi, sampai pelanggaran pidana terjadi.
Nggak ketinggalan, janji-janji surga dari para kontestan pun mewarnai masa kampanye. Mewujudkan cita-cita reformasi, penyediaan lapangan kerja, meminimalisasi biaya pendidikan, pemberantasan KKN, peningkatan taraf ekonomi, sampai upaya pengentasan kemiskinan begitu laku ‘dijual’ oleh para jurkam (juru kampanye lho bukan juragan kambing!).
Pemilu dan perubahan sudah dinobatkan jadi dua sejoli dalam pemerintahan demokrasi. Nggak ada perubahan formasi para pejabat pemerintahan tanpa melalui proses pemilihan wakil rakyat ini. Baik anggota dewan, presiden, wakilnya, maupun susunan kabinet. Melalui pemilu, diharapkan para new comer emang orang yang dikehendaki oleh rakyat. Biar mampu menyalurkan aspirasi rakyat dan nggak lupa memperjuangkan hak-hak rakyat yang terkikis oleh para kapitalis. Sesuai mottonya, “dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.”

Sayangnya, motto pemerintahan rakyat itu sering nggak muncul dalam pemerintahan pascapemilu. Para kapitalis yang ikut ‘patungan’ untuk membiayai kampanye bakal minta bagian. Dari jatah jabatan pemerintah yang strategis, kewenangan mengelola sumber daya alam, hingga kekebalan hukum atas bisnis yang mereka jalankan. Para wakil rakyat pun akan mendapat banyak ‘rezeki nomplok’ dari para kapitalis itu agar kebijakan pemerintah yang dikeluarkan berpihak padanya. Sementara kewajiban mengurusi rakyat yang ada di pundak anggota dewan cuma masuk daftar tunggu prioritas. Makanya pas banget kalo kita bilang motto itu diubah menjadi “dari rakyat kecil (masyarakat) oleh rakyat menengah (para wakil rakyat) dan untuk rakyat besar (para konglomerat)”.
Pelaksanaan pemilu dalam bingkai demokrasi di setiap, semata-mata untuk melanggengkan sistem sekular itu. Buktinya, parpol pemenang pemilu atau wakil rakyat yang terpilih nggak boleh ngotak-ngatik falsafah negara dan UUD yang menjadi asas negara. Apalagi sampe menggantinya dengan aturan yang nggak sekular. Bisa berabe urusannya. Karena bertentangan dengan UU pemilu dan UU parpol yang udah disahkan. Karena itu, kita nggak akan pernah menjumpai perbaikan kondisi di bawah bendera demokrasi. Percaya deh! Percayalah...

..... Baca Selengkapnya

Jeritan Palestina

Bayangkan jika kamu punya segudang harapan, tapi tiba-tiba harapan itu buyar dan lenyap entah kemana. Atau kamu punya impian yang begitu indah, tapi kemudian tak pernah menjadi kenyataan. Menyakitkan bukan? Nah, realitas seperti inilah yang kini harus diterima anak-anak Palestina. Betapa pun getirnya kenyataan itu, toh akhirnya memang harus ditelan. Karena hidup memang tak selamanya bisa memilih.

Ratusan orang harus meregang nyawa ditembus peluru serdadu Yahudi Israel pada saat terjadi bentrokan berdarah antara polisi Israel dan warga muslim Palestina di Jalur Gaza. Dan kalo kamu rajin baca berita atau nonton siaran berita pasti bisa mendapatkan foto ‘ekslusif’ yang menjelaskan bagaimana biadabnya serdadu Israel ketika membantai Palestina.

Puluhan bahkan ratusan orang harus rela kehilangan masa depan. Berjuta impian yang sudah dirajut harus punah dalam sekejap. Beribu harapan sirna dalam hitungan detik. Ya, itu adalah kenyataan yang memang pahit dan getir. Ini akan terus terjadi dan bakal terulang bila ummat Islam cuma diam atau paling banter cuma mengutuk, tapi tindakan nyata kita tak pernah ada. Jelas, itu akan membuat orang-orang Israel besar kepala, dan akan merasa enteng melenyapkan nyawa orang-orang Palestina. Stasiun Televisi Lokal melaporkan, sampai saat ini sudah 400 orang lebih tewas dan ratusan bahkan ribuan lainya luka-luka. Kawan, itu saudara-saudara kita. Masihkah kita cuek alias nggak peduli dengan nasib saudara kita di sana? Ya, Palestina kembali membara kawan. Nah, sekarang kita bakal diajak untuk mengasah kesadaran politik sekaligus kepedulian kita terhadap nasib saudara kita di kawasan Timur Tengah itu.

..... Baca Selengkapnya

Palestina Tanah Kita

Khalifah Abdul Hamid II berkomentar dengan tegas, tatkala Theodore Hertzl (penggagas gerakan Zionis) meminta tanah Palestina di tahun 1897, “Tanah itu bukan milikku, tetapi milik ummatku.” Mendengar komentar seperti ini karuan saja Hertzl murka. Bahkan lantaran komentar ini pula, ia kemudian melakukan persekongkolan untuk memecat Abdul Hamid II dari jabatan Khalifah.

Tentang Palestina ini, sebetulnya sudah dilindungi pula dengan sebuah perjanjian di masa Khalifah Umar bin Khaththab. Saat itu Khalifah Umar membuat perjanjian yang terkenal dengan nama Al Ihdat Al ‘Umariyyah (perjanjian Umar), yang berbunyi, “...atas nama Islam dan kaum Muslim. Isinya antara lain, ‘Tidak boleh seorang Yahudi pun tinggal bersama kaum muslimin di Baitul Maqdis.” (Ibnu Jarir Ath Thabari, Tarikhul Umam wal Muluk, pada judul “Iftitah Baitul Maqdis”, Penaklukan Baitul Maqdis).

Setelah Khilafah Islamiyyah (pemerintahan Islam) runtuh orang-orang Yahudi seperti menuntut balas. Maka dalam kondisi kaum muslim yang lemah mereka berusaha mencari dukungan Amerika dan PBB untuk mendirikan negara Israel Raya. Kamu bisa simak bagaimana para kekentong alias pentolan Yahudi ‘bersuara’ untuk mengesahkan tindakan brutal mereka dalam merampok tanah Palestina. “Negeri ini berdiri semata-mata akibat janji Tuhan sendiri. Oleh karena itu, meminta pengakuan atas keabsahannya tentulah tindakan yang menggelikan,” teriak Golda Meir, PM wanita Israel pertama dengan sewotnya. “Negeri ini telah dijanjikan kepada kita dan karena itu berhak sepenuhnya atas tanah itu,” ujar Menachem Begin. Orang inilah yang berhasil menggiring Presiden Anwar Sadat ke meja perundingan Camp David yang direkayasa oleh Amerika dan Israel sendiri.

Seperti satu suara dengan teman-temannya, Moshe Dayan, jenderal Israel yang terkenal keji dan selalu menutup sebelah matanya berkomentar tak kalah menyakitkan, “Jika terdapat buku injili, serta bangsa injili, maka haruslah ada pula negeri injili,” Dan ada satu lagi pernyataan yang bikin ‘gerah’ kita, “Negeri ini merupakan rumah historis bangsa Yahudi,” demikian pernyataan dalam memorandum organisasi Zionis tahun 1919. Wah, keterluan sekali “bangsa kera” itu, ya? Ya, memang kurang ajar!

Tapi benarkah alasan mereka itu? Ternyata bohong besar. Suer, kamu perlu tahu pernyataan yang dilontarkan oleh Dr. Roger Geraudy, seorang intelektual Nasrani asal Perancis yang kemudian masuk Islam, “Ia sama sekali tidak mempunyai keabsahan, baik secara historis, injili, maupun yuridis untuk berdiri di tempat yang ia tegakkan sekarang ini,” tegasnya dalam buku yang ditulisnya, The Case of Israel a Study of Political Zionism.

Jadi dengan demikian memang tanah Palestina itu adalah milik kita, bukan milik “bangsa kera” itu. Setiap jengkal dari tanah milik kaum muslimin tidak boleh dikuasi oleh orang-orang kafir. Nekat menjarahnya berarti urusannya darah.

Maka solusinya adalah seperti yang dilontarkan oleh salah seorang bocah palestina. Apa itu? “Angkat senjata dan basmi orang-orang Yahudi Israel terkutuk itu!” Memang hanya itu satu-satunya jalan, nggak ada jalan lain. Jangan memaksakan berdamai, toh perundingan damai cuma buang waktu saja.

..... Baca Selengkapnya

Bagaimana dengan Kita?


Ya, itu masalahnya. Kita dan orang-orang Palestina memang dipisahkan oleh ruang dan waktu. Antara kita dengan orang-orang Palestina terbentang lautan dan daratan yang luas sekali. Tapi, sebetulnya kita punya rasa, kita punya cinta, dan kita punya luka yang sama dengan mereka.

Teman, mereka siap menggelorakan semangat jihad untuk mengusir serdadu Israel yang telah merampok tanah mereka. Kita jangan cuek menyaksikan kejadian ini.

Coba, ketika orang-orang Palestina meregang nyawa ditembus peluru, kira-kira kita sedang ngapain. Main basket? Atau tidur nyenyak? Atau malah sedang tawuran dengan teman sekolah lain? Ironi bukan?

Juga, ketika mereka menderita di pengungsian akibat diusir dari negeri mereka sendiri, kita sedang berbuat apa? Main game? Nongkrong-nongkrong? Nonton konser musik? Atau malah sedang asik melahap makanan ‘bule’ di resto kelas wahid dengan harga selangit? Lalu dimana rasa peduli kita terhadap saudara sendiri?

Teman, orang-orang Palestina sudah kenyang dengan segala penderitaan dan kekecewaan akibat ulah orang-orang Yahudi yang menggasak tanah mereka dan mengusirnya bak pesakitan. Sekali lagi itu adalah saudara kita. Saudara yang seharusnya ‘bersatu’ dalam suka dan duka, dalam sedih dan gembira. Masihkah kita mengatakan, bahwa itu adalah orang lain? Tidak kawan, mereka adalah kita. Ya, kita. Bukan siapa-siapa dan bukan orang lain. Kaum muslim di Palestina, Uzbekistan, Tajikistan, Kashmir, Filipina, atau di negeri sendiri; Ambon, Aceh dan yang lainnya, pokoknya seluruh kaum muslimin di penjuru dunia ini adalah saudara kita.

Kita dipersatukan dan dipersaudarakan dengan Islam. Bukan dengan yang lain. Kalau pun sekarang kita nggak merasa bahwa itu saudara kita karena kita menganggap beda daerah, beda bahasa, dan beda negara. Itu adalah kesalahan besar. Ya, salah besar teman! Ternyata ide nasionalisme telah membuat ‘dinding tebal’ di antara kita. Sehingga kita nggak bisa ‘menengok’ saudara kita yang tengah menderita. Kita menjadi orang super cuek alias nggak mau peduli dengan urusan saudara kita sendiri. Tolong, sikap seperti itu jangan dipelihara, itu berbahaya bin gawat. Sekali lagi, kita bersaudara, bahkan seharusnya merasa sakit bila saudara kita disakiti dan merasa senang bila saudara kita berhasil. Sudahkah kita memiliki rasa itu?

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badannya merasa kesakitan, maka seluruh anggota tubuh yang lain turut merasa sakit. Kita bersaudara, teman. Nggak mungkin dong, tangan kiri kita kejepit pintu, eh, tangan kanan malah ‘nyukurin’. Kan aneh ya, nggak? Nah, begitu pun dengan saudara kita di Palestina, mereka lagi menderita, gokil dong kalo kita cuek bahkan nggak mau tahu banget. Itu namanya muslim ‘kurang ajar’. Jangan sampe deh nurani kita begitu bebal. Kita kan bukan batu. Kita manusia yang memiliki perasaan. Rasa cinta, rasa sayang, dan ‘berjuta’ rasa lainnya.

Kita harus peduli dengan nasib saudara kita di belahan bumi manapun termasuk Palestina. Bisa kan? Jadi bagaimana sekarang? Memang solusi untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman Israel adalah dengan mengangkat senjata. Berarti pemecahannya adalah dengan jihad. Kamu perlu tahu, bahwa jihad adalah fardhu ‘ain bagi penduduk yang berada di daerah konflik (Palestina dan sekitarnya), sedangkan bagi yang jauh seperti kita di sini, ‘jatuhnya’ adalah fardhu kifayah (tapi kita harus siaga, siapa tahu orang Yahudi kemudian melipat-gandakan kekuatannya). Jadi langkah praktisnya, kita bisa mengirimkan bantuan baik berupa uang ataupun senjata untuk mereka. Ya, paling minimal banget wujud peduli kita adalah dengan mendoakan mereka supaya tetap kuat melawan orang-orang Yahudi itu.

..... Baca Selengkapnya

DiBalik Perayaan Tahun Baru Masehi

Sreet....! Satu lembar lagi kalender sobek yang mangkal di atas meja kerja kudu menghuni tempat sampah. Phew...., nggak kerasa ya, dalam hitungan hari, sebentar lagi kita akan memasuki tanggal keramat di awal tahun. 1 Januari bro! Tanggal yang memaksa kita mencampakkan kalender lama yang lecek bin dekil of the kumel dengan semua kenangan yang tersimpan di setiap tanggalnya. Posisinya kudu digantikan oleh almanak baru yang siap merekam setiap peristiwa dalam keseharian kita. Ibarat pepatah, “Habis tanggal, kalender dipenggal” Kejam nggak sih?

Nggak cuma ganti kalender secara massal, akhir tahun juga selalu diwarnai berbagai tradisi. Di stasiun tv, ada tayangan kaleidoskop yang mengulas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu tahun yang akan ditinggalkan. Dukun dan paranormal/tidaknormal banyak disantroni untuk dapetin ramalan jodoh, rizki, musibah, atau peruntungannya di tahun depan. Para desainer pakaian, penata rambut, atau produsen kosmetik juga udah siap melaunching produk-produk terbarunya untuk dipopulerkan di tahun mendatang.

Ada juga yang punya tradisi berburu kalender baru yang gratisan (jangan tesinggung ya?). Di mana saja dan kapan saja, panca inderanya nggak lepas dari pantauan sinyal-sinyal yang menunjukkan keberadaan kalender gratisan. Dari tukang bakso sampe supir angkot, sempet-sempetnya pake ditagihin kalender. Malahan, yang biasanya beli kopi sebungkus di warung depan rumah, bela-belain pergi ke toko kopi di pasar biar dapet kalender. Jalan kaki lagi. Idih, ini sih tipe remaja hemat setiap saat. He5..

Tapi semuanya kalah prestise dibanding tradisi perayaan tahun baru. Sudah harga mati kalo momen istimewa ini nggak boleh lewat tanpa dirayakan dengan heebooooh! Buat remaja, terasa garing binti kering-kerontang kalo malam tahun baru kagak pake acara arak-arakan di jalan raya. Baik dengan jalan kaki atau pake kendaraan bermotor sambil bakar petasan dan kembang api, niup terompet, metik gitar, nabuh gendang, plus ngedarin ‘kotak infak’ dari gelas plastik (ini konvoi apa ngamen seh?).

Tiap stasiun televisi jauh-jauh hari udah wanti-wanti bakal ngegelar acara spesial dalam rangka menyambut tahun baru. Musik, dance, kuis, games, semuanya digelar hingga larut malam. Puncak kemeriahan terjadi pada saat perhitungan mundur menjelang detik-detik proklamasi, eh pergantian tahun sebelum jarum jam menunjukkan pukul 00.00 (tahun baru) Lima... empat... tiga... dua... satu... toooeet!!!

Tanpa dikomando, penonton di studio maupun pemirsa di rumah serempak meniup terompet. Di jalan raya, raungan keras dari knalpot dan teriakan klakson kendaraan bermotor memecah kesunyian malam. Nyala kembang api dalam berbagai warna menerangi gelapnya langit dan makin menambah kemeriahan dan semaraknya suasana. Kemudian berlanjut dengan pemberian ucapan selamat tahun baru, cipika-cipiki dan tukar-menukar kado dalam iringan musik yang hingar-bingar.






..... Baca Selengkapnya

Tradisi Perayaan Tahun Baru Masehi

Ternyata perayaan tahun baru nggak cuma sebatas merengkuh kebersamaan aja lho. Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka terhadap dewa. Nah lho!

Contohnya di Brazil. Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja. Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara si “Toloy Bocah Sakti” Ronaldo.

Seperti halnya di Brazil, orang Romawi kuno pun saling memberikan hadiah potongan dahan pohon suci untuk merayakan pergantian tahun. Belakangan, mereka saling memberikan kacang atau koin lapis emas dengan gambar Janus, dewa pintu dan semua permulaan. Menurut sejarah, bulan Januari diambil dari nama dewa bermuka dua ini (satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang).

Sedangkan menurut kepercayaan orang Jerman, jika mereka makan sisa hidangan pesta perayaan New Year’s Eve di tanggal 1 Januari, mereka percaya tidak akan kekurangan pangan selama setahun penuh. Masa’ sih? Ah...namanya juga takhayul!


..... Baca Selengkapnya

Sejarah Tahun Masehi

Ini dia, harus disimak baik-baik!! Di tengah gencarnya ajakan dari sana-sini untuk ngerayain tahun baru, kita justru sedih. Nah, kuq sedih?? Sedih karena banyak di antara kita, nggak ngeh kalo perayaan tahun baru merupakan bagian dari hari suci umat Kristen. Seperti yang tercantum dalam pernyataan dari kedubes AS perihal sejarah dan perayaan tahun baru.

Bagi orang kristen yang mayoritas menghuni belahan benua Eropa, tahun baru masehi dikaitkan dengan kelahiran Yesus Kristus atau Isa al-Masih, sehingga agama Kristen sering disebut agama Masehi. Masa sebelum Yesus lahir pun disebut tahun Sebelum Masehi (SM) dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi. Gitchu ceritanya!

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tanggal 1 Januari dirayakan sebagai hari tahun baru. Tepatnya tanggal 1 Januari tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Tak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, dia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, ahli astronomi dari Aleksandria, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir. (www.irib.ir)

Sementara kalender sekarang yang banyak dicari di akhir tahun adalah Kalender Gregorian atau kalender Masehi. Kalender ini yang dinobatkan sebagai standard penghitungan hari internasional. Pada mulanya kalender ini dipakai untuk menentukan jadual kebaktian gereja-gereja Katolik dan Protestan. Termasuk untuk menentukan perayaan Paskah di seluruh dunia. (www.babadbali.com)

Nah, sekarang kita tahu dong kalau perayaan pergantian tahun merupakan tradisi yang berasal dari orang kafir. Dengan dukungan sumber informasi dunia yang mereka kuasai, mereka menyeru dan mempublikasikan hari-hari besarnya ke seluruh lapisan masyarakat serta dibuat kesan seolah-olah hal itu merupakan hari besar yang sifatnya umum, populer, tren, dan bisa diperingati oleh siapa saja. Padahal ini merupakan salah satu cara mereka untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya. Hati-hati ya... Waspadalah..!!!

Sialnya, banyak dari kita yang nggak menyadari serangan budaya ini. Terlena oleh acara malam tahun baru yang dikemas secara apik dan menarik. Tahu dong, konsekuensinya kalo Allah menggolongkan kita ke dalam golongan orang-orang kafir. Kita bakal kekal ‘nginep’ di neraka. Iih, nggak lah yauw..!

Trus gimana dong?

Pertama, kita nggak perlu malu bin segan untuk menolak ajakan teman untuk hura-hura bin pesta-pora di malam tahun baru. Di hadapan temen-temen boleh jadi kita dianggap sombong, nggak toleran, atau malah dikira alien alias makhluk asing karena ‘beda’. Tapi di hadapan Allah, kita bisa termasuk golongan para penghuni surga. Amiin.

Kedua, kita nggak ngikut tahun baruan bukan berarti kita nggak peduli dengan pergantian tahun lho. Tetep kita nyadar kalo pergantian tahun merupakan bagian dari perubahan waktu. Saking sadarnya, kita mencoba mensikapi sang waktu. Bukan dengan euforia bergelimang maksiat, tapi sebagai alat ukur untuk mengevaluasi kemajuan diri kita.

Kesempatan yang Allah berikan nggak akan datang dua kali. Waktu yang telah kita lewati nggak akan bisa diputar ulang. Tapi akan terus ngotot lari dan pergi.

Kita perlu sadari bahwa kita nggak akan selamanya muda. Jika usia kita panjang, mau nggak mau, waktu bakal nganterin kita memasuki kehidupan orang dewasa dengan segudang permasalahannya. Apa yang kita harapkan di masa depan jika sekarang kita lebih doyan hura-hura bin pesta-pora dibanding memanfaatkan waktu untuk mengasah keterampilan, pola sikap, dan pola pikir kita. Bisa-bisa otak kita sampai meninggal masih orisinil karena jarang dipake buat nyari pemecahan masalah. Walah!

Suatu saat juga kita akan sampai di ujung waktu. Satu masa dalam hidup saat kita nggak bakalan diberi kesempatan ulang untuk berbuat baik atau bertobat. Masihkah kita memimpikan kesenangan surgawi di kala kita sibuk mengejar materi dan popularitas dengan mengorbankan aturan Ilahi

Karena itu, mari kita sama-sama sambut kesempatan yang Allah berikan dengan memperbanyak amal saleh dan mengurangi amal salah. Kita luruskan niat dalam berperilaku semata-mata mengharap ridho Allah. Kita ringankan langkah kaki menuju taman-taman surga tempat mengkaji, memahami, meyakini semua aturan Allah. Kita kuatkan pijakan kaki kita di atas akidah Islam di tengah serangan budaya dan pemikiran Barat. Kita padati hari-hari kita untuk siapkan perbekalan dalam menghadapi masa tua dan masa persidangan yaumul hisab kelak


..... Baca Selengkapnya

Mengapa Anak Vs Orang Tua

Dalam hidup, hubungan antarpersonal tak selalu berjalan mulus-mulus saja.

Pertengkaran adalah bunga kehidupan, begitu kata klasiknya. Ini terjadi juga pada hubungan orang tua dengan anak. Sesayang apa pun orang tua pernah juga tak sependapat dengan anaknya. Sesayang apa pun anak, pasti pernah berbeda pendapat dengan orang tuanya.


Orang tua mempunyai kewajiban terhadap anak. Anak juga mempunyai kewajiban terhadap orang tua. Namun, selama kedua belah pihak masih bernama manusia, yang merupakan tempat salah dan lupa, konflik pun masih berpotensi untuk terjadi.

Tugas Orang Tua

Anak sebenarnya merupakan titipan dari Allah. Anak merupakan sebuah amanah. Amanah ini bukanlah sesuatu yang enteng lagi remeh. Orang tua mempunyai kewajiban terhadap amanah ini. Orang tua mempunyai tugas mendidik anak dengan pendidikan yang benar sehingga anak tersebut selamat dunia dan akhirat.

Masa Pancaroba

Manusia adalah makhluk tang tumbuh berkembang dengan penuh fenomena. Seorang anak tak selamanya menjadi kecil. Lama kelamaan ia akan tumbuh menjadi remaja.

Pubertas bisa dianggap sebagai awal masa remaja, walaupun tak selamanya tepat. Pubertas yang pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah dan pada perempuan dengan haidh pertama lebih dipakai sebagai istilah dalam perkembangan bioseksual manusia.

Masa remaja dalam ilmu biologi atau dunia kedokteran lebih dikenal dengan istilah adolesen. Secara bahasa, adolesen berarti menjadi dewasa adau dalam perkembangan menjadi dewasa. Sebagian ahli mengkategorikan umur 13-18 tahun sebagai masa remaja untuk anak putri. Sedangkan untuk anak putra, masa remaja antara umur 14-18 tahun.

Pada masa inilah perubahan-perubahan banyak terjadi. Tak hanya perubahan seksual dan fisik. Emosi pun mengalami perubahan. Karena itulah, masa remaja disebut juga sebagai masa pancaroba atau strum and drang alias masa badai dan topan. Istilah ini menggambarkan keadaan emosi remaja yang tak menentu, tidak stabil dan meledak-ledak.

Ketidakstabilan emosi ini sering terlontarkan dalam wujud lekas marah, suka menyendiri, dan sikap gelisah. Ketidakstabilan emosi ini pula yang sering mengambil tempat dalam konflik dengan orang tua.

Faktor yang Mempengaruhi Emosi

Mengapa kepekaan emosi remaja bisa meningkat?? Dalam ilmu biologi dan kedokteran, mungkin kita pernah mengenal istilah endokrin. Perubahan sistem endokrin dalam tubuh manusia tidak hanya berpengaruh dalam perubahan fisik. Perubahan endokrin ini juga menimbulkan ganggan homostatis badan sehingga emsoi sulit dikontrol.

Faktor lingkungan sosial juga sangat mempengaruhi. Saat remaja, seorang akan mengalami perubahan fisik. Tubuhnya akan tampak besar, namun psikisnya belumlah memadai. Kadang, lingkungan mengharapkan tingkah laku yang dewasa dari remaja hanya karena melihat fisik anak yang besar. Padahal, psikisnya belumlah dewasa. Ini merupakan tekanan terhadap para remaja hingga menyebabkan emosinya tegang.

Belum lagi adanya penyesuaian pergaulan dengan jenis kelamin lain. Dengan adanya perubahan bioseksual, ketertarikan terhadap lawan jenis pun berubah sifatnya.


..... Baca Selengkapnya

Memang Demikian

Dua ‘tugas’ perkembangan sosial remaja yang terpenting adalah memperluas kontak sosial dan menjawab pertanyaan tentang jati diri remaja (Who am I ??, Siapa Saya??). dua tugas ini saling berhubungan dan keduanya mengakibatkan renggangnya hubungan remaja dengan orang tua.

Dua macam tindakan yang sangat mencolok pada masa remaja dibandingkan periode perkembangan lain adalah memisahkan diri dari orang tua dan mendekati teman-teman sebaya. Ini adalah perwujudan dari tugas memperluas kontak sosial. Apa yang sebenarnya dilakukan remaja saat mendekati teman sebaya?? Tindakan ini berperan untuk membagi perasaan dan menenangkan emosinya.

Tindakan menjauh dari orang tua dan mendekati teman sebaya juga merupakan suatu proses untuk mencapai identitas ego, alias kendali diri. Ini berhubungan dengan pencarian jati diri.

Kadang oerang tua tidak memahami dua tugas ini. Remaja kadang masih dianggap seperti anak kecil. Setiap gerak-gerik diawasi, setiap tindakan diamati. Kedua oarang tua masih melihat remaja belum cukup dewasa sehingga belum bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Remaja tidak diberi waktu untuk mempunyai inisiatif sendiri, padahal mencari jati dirinya merupakan tugasnya saat itu.

Wujudnya, ortu pun mengatur dan menuntut anak-anak harus sama dengan mereka; cara pandangnya, status sosialnya, pekerjaannya, de el el. Dalam sikap yang seperti ini, seringkali ortu hanya menuntut begini begitu saja. Anak yang sudah remaja tidak diajak berdiskusi. Tentu hal ini menambah beban pikiran remaja dan memendekkan sumbu bom emosi mereka.

Contohnya, hanya gara-gara sang ayah menjadi pejabat, maka ia pun menuntut anaknya juga harus seperti dirinya. Padahal mungkin anaknya tidak suka sama sekali terhadap jabatan, aau punya keinginan di bidang lain. Bisa terjadi juga, ortu dulunya punya obsesi yang tidak kesampaian sehingga si anak dituntut untuk menjadi seperti apa yang diidamkannya dahulu padahal anak tersebut merasa tidak cocok dengan keinginan ortunya.

Tindakan menjauh dari orang tua sering dikhawatirkan berlebihan, walaupun rasa khawatir ini ada dasarnya juga.

Solusi

Sebagai remaja, kita harus sadar bahwa kita punya kewajiban untuk berbakti kepada orang tua. Ingat, berbakti kepada kedua orang tua menduduki peringkat kedua setelah mengesakan Allah. Ingat pula bahwa jika orang tua sampai marah, masalahnya bisa tambah runyam, karena ridho Allah berada pada orang tua dan murka Allah berada pada kemarahan orang tua.

Sebagai anak, kitalah yang seharusnya mendahului untuk mengajak berbicara terus terang kepada oarng tua, apa pun masalah yang selama ini mengganjal. Jangan gengsi mengajak bicara orang tua, apalagi sampai menuntut mereka yang harus tahu tentang diri kita dengan sendirinya. Panjatkan doa pula agar hubungan kita dengan orang tua baik-baik saja.

..... Baca Selengkapnya

Kita lahir karena “cintanya”

Suatu saat nanti, kita akan tahu sendiri betapa bahagianya punya anak. Ortu kita juga demikian, rasa cinta mereka bersatu dalam ikatan pernikahan, lalu lahirlah kita. Sebab rasa cinta adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Buktinya apa? Banyak pasangan yang sudah lama menikah, merasa gelisah bila belum punya anak. Berarti di sini jelas, bahwa cinta berbeda dengan seks dalam pengertian hubungan biologis semata.

Setelah kita lahir, tanggung jawab ortu bertambah, yakni merawat dan membesarkan kita. Dan itu dijalaninya dengan rasa cinta dan sayangnya yang menggunung. Ayah kita rela berpanas-panas dan basah kuyup mencari uang untuk beli susu dan makanan kita. Adakalanya bagi para ayah yang kebetulan kondisi ekonominya termasuk golongan “alit” alias pas-pasan, mereka mencari nafkah harus dengan mengeluarkan keringat, dan bahkan juga darah. Kita bisa lihat bagaimana para buruh kasar di pabrik, pasar, dan juga pelabuhan. Apa yang bisa kamu bayangkan saat melihat mereka tengah berjuang? Ya, itu bagian dari tanggung jawabnya. Dan jangan lupa, juga bagian dari rasa cinta mereka untuk anak dan istrinya.

Pernahkah kita mengukur rasa cinta kita kepada ortu? Seberapa besar sih rasa cinta kita kepada ortu? Sebab, ada kalanya kita suka itung-itungan dengan ortu kita. Bener nggak? Misalnya, kalo kita udah jagain adik, kita suka minta jatah es krim sepulang ibu dari pasar. Apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan beres-beres rumah, ujungnya kita suka minta imbalan uang atau barang lainnya. Malah ada juga di antara teman remaja yang masang “tarif” duluan sebelum bekerja. Kita bersedia melakukan pekerjaan itu, tapi ada syaratnya: ada uang jajannya sebagai “sogokan”. Kalo nggak, kagak pake deh! Walah?

Ada cerita menarik yang berhubungan dengan tema ini.

Dikisahkan ada seorang anak yang menyodorkan selembar kertas berisi tulisan semacam tagihan kepada ibu. Isinya: Memotong rumput 5 dollar, membersihkan kamar 1 dollar, pergi ke toko menggantikan ibu 0.5 dollar, menjaga adik waktu ibunya belanja 0.25 dollar, membuang sampah 1 dollar, untuk rapor yang bagus 5 dollar, dan untuk membersihkan dan menyapu halaman 2.99 dollar. Total utang ibu kepadaku: 14.75 dollar.

Si ibu menatap anaknya lekat-lekat, lalu mengambil ballpoin, dan kemudian menulis di balik kertas tersebut. Isinya begini: Untuk sembilan bulan ketika Ibu mengandung kamu selama tumbuh dalam perut Ibu, Gratis. Untuk semua malam ketika Ibu menemani kamu, mengobati kamu, dan mendoakan kamu, Gratis. Untuk semua saat susah, dan semua air mata yang kamu sebabkan selama ini, Gratis. Kalau dijumlahkan semua, harga cinta Ibu adalah Gratis. Untuk semua malam yang dipenuhi rasa takut dan untuk rasa cemas di waktu yang akan datang, Gratis. Untuk mainan, makanan, baju, dan juga menyeka hidungmu, Gratis. Dan kalau kamu menjumlahkan semuanya, harga cinta sejati Ibu adalah Gratis.

Setelah itu, si anak berkata kepada ibunya, “Bu, aku sayang sekali sama Ibu.” Dan kemudian si anak mengambil ballpoin dan menuliskan dengan huruf besar: “LUNAS”

Nah, ini sekadar contoh saja, betapa kita kadangkala suka itungan sama ortu kita. Kita mogok melakukan perintahnya, hanya karena uang jajan belum masuk kantong kita.

..... Baca Selengkapnya

Biar Orang Tua Percaya

Apa hubungan kedewasaan dengan Orang Tua? Jawabnya adalah, banyak. Seorang anak bisa menjadi dewasa, diakui atau tidak, karena adanya peran orang tua. Tanpa andil orang tua, sangat mungkin seseorang tak akan mampu survive mencapai usia dewasa. Manusia juga mengenal ligkungan pertamanya dari orang tua sehingga pertumbuhannya di kehidupan dunia sangat dipengaruhi campur tangan orang tuanya.

Orang tua juga yang mendidik, membimbing, dan menjagaseorang anak hingga beranjak menjadi dewasa. Terlalu besar jasa orang tua pada anak, sehingga sangat wajar kalau kita disuruh berbuat baik dan berbakti kepada orang tua. Proses kedewasaan seseorang jelas tak lepas dari peran orang tua, namun ternyata setelah seseorang merasa dewasa seringkali ia melupakan orang tuanya. Atau tak jarang terjadi, masa kedewasaan menjadi pemicu munculnya konflik serius antara anak dengan orang tua.

Sang anak menganggap bahwa ia sudah dewasa,



lebih berhak mempunyai pemikiran tersendiri tak perlu lagi bersentuhan dengan pemikiran orang tua. Mungkin juga sang anak menganggap pemikiran orang tua kolot, tak cocok diterapkan di jaman sekerang.
Anak pun tidak lagi mampu bersikap mesra dengan orang tua. Di sisi lain, orang tua menganggap bahwa kedewasaan anaknya masih terlalu 'hijau' dan belum bisa dianggap dewasa sebenarnya. Bukan salah orang tua seluruhnya, karena seorang anak yang menganggap dirinya telah dewasa ternyata banyak yang masih bersikap tak dewasa. Bagaimana mungkin orang tua akan percaya? Konflik antara orang tua dengan anak yang
menanjak dewasa bukan suatu hal yang mustahil ditemukan dalam hidup keseharian. Bahkan mungkin kita termasuk yang mengalaminya.

..... Baca Selengkapnya

Kuat dan Kuat

Lebih kuat banyak manfaat. Sebenarnya memang begitu. Jika kekuatan tiu dimanfaatkan dalam kebaikan dan membantu yang lemah. Namun fenomena yang ada di sekitar kita sekarang adalah, orang yang kuat malahan menindas yang lemah. Pada kondisi yang demikian tentu saja tidak bisa kita katakan bahwa kekuatan memberikan manfaat. Namun sebaliknya. Orang sekarang juga berlomba-lomba untuk mengumpulkan kekuatan dalam rangka kuat-kuatan. Menggentarkan orang lain yang tak setuju dengan dirinya dan pemikirannya. Yang kuat itulah yang menang, begitu kata sebagian orang.

Kita tidak mau dengan kekuatan yang seperti itu. Kuat fisik, pemikiran, harta dan kedudukan hanya akan bermanfaat jika digunakan di sisi ketakwaan. Dalam bingkai ketakwaan, kekuatan benar-benar akan membawa rahmat.

Terinspirasi dari



sebuah hadits Nabi yang menyatakan bahwa mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Ada poin menarik yang patut diburu oleh seorang muslim yaitu cinta Allah. Bila kecintaan Allah itu ada pada yang kuat, lantas kenapa kita tak berupaya untuk menjadi yang kuat itu.

..... Baca Selengkapnya

Malu...

MALU??


Malu?? Kalo dulu diidentikkan dengan para gadis.

Apalagi yang sedang dipingit, menunggu



Itu dulu, zaman bapak atau bahkan kakek kita. Sekarang sudah lain. Malu sudah bukan zamannya, begitu kata orang. Sebagian gadis juga tak selalu identik dengan rasa malu. Bahkan kadang-kadang, ada pria yang lebih pemalu dibandingkan yang gadis. Tentu ini tak berlaku pada semua wanita. Semoga masih lebih banyak yang punya rasa malu tinggi dibanding yang tidak.

Rasa malu yang benar akan mencegah pemiliknya dari berbuat kurang sopan, tidak sopan apalagi kemaksiatan. Orang yang berhasil memenej rasa malunya dengan baik pasti akan lebih terhormat, meski mungkin orang tersebut tak berharta atau bertahta. Sebaliknya, orang yang gagal mengatur rasa malunya pasti jatuh kedudukannya di hadapan manusia. Setinggi apapun pangkat dan sebanyak apapun hartanya.

Rasa malu juga mengambil posisi strategis dalam hubungan antara sorang hamba dengan Rabbnya. Bayangkan saja, seseorang hendak berbuat maksiat ia malu pada Allah hingga mengurungkan perbuatannya tersebut. Seorang akan tercegah dari berbuat lalim, khianat, bohong, curang, riya, ghibah, dan berbagai maksiat karena rasa malu kepada Allah.

Demikian pula,


setiap orang dengan profesi yang berbeda akan berbuat sesuatu dengan jujur dan amanah karena malu kepada Allah. Ya, rasa malu yang benar akan melahirkan sebuah sebuah masyarakat yang teratur, sadar terhadap hukum Allah dan taat di dalam setiap medan penghidupan. Tentu saja, malu yang begini tak pernah kadaluarsa di setiap masa dan tempat manapun. Manusia akan sadar dengan posisinya sebagai hamba dan tak lagi malas-malasan beribadah kepada Rabbnya. Allah selalu mengawasi dan melihat perbuatan hamba. Di saat ogah-ogahan beribadah, dan cenderung berbuat maksiat coba tanyakan pada diri sendiri, "Tidak malukah Aku??".

..... Baca Selengkapnya

Gerakan Berani Maksiat

Baru lahir sudah mau dibunuh. Begitulah nasib Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Sejak ide untuk membuat RUU ini bergulir, sudah muncul perlawanan keras dari mereka yang nggak setuju.

Apakah orang-orang sudah mulai nggak malu mendukung pornografi, ya? Jangan-jangan mereka sudah tidak malu menjadi pelaku pornografi dan pornoaksi. Ah, tampaknya memang iya.

Ide pembentukan UU APP bisa berarti kemajuan dalam hal nahi mungkar di masyarakat Indonesia dalam segi hukum formal. Dulu, kalo ada ide seperti ini biasanya langsung mendapat cap ekstrimis atau fundamentais. Tapi sayangnya, ide pembentukan UU APP ini juga muncul karena semakin parahnya maksiat di negeri kita.

Awal masa reformasi merupakan tertuduh awal mula semakin maraknya maksiat di negeri kita. Begitu tekanan orde baru tercerai berai, rakyat tenggelam dalam euphoria tanpa kekangan. Tak sedikit orang berpikiran jahat yang mulai memanfaatkannya. Apalagi ketika pemerintah membubarkan Departemen Penerangan yang biasanya masih bisa meminimalisir media yang bisa merusak bangsa. Kemudian, tumbuh suburlah media-media baru tanpa halangan SIUPP lagi. Di antara mereka banyak yang mencoba menarik konsumen dengan memasang wanita telanjang.

Tabloid kuning made in dalam negeri mengawali. Kita pun melihat sendiri penjualan mereka tak sediam-diam penjualan buku porno era Orba. Tabloid yang demikian dipajang begitu saja di kios-kios. Eh, tak lama kemudian majalah penjaja wanita keluaran luar negeri rame-rame bikin perwakilan di sini.

Tak ketinggalan, majalah porno terkenal sedunia, playboy. Heboh playboy di negeri ini bermula dari seorang wanita Indonesia yang berani menjadi model telanjang majalah ini dalam versi luar negeri. Bangsa yang terkenal menjunjung nilai kesopanan mulai meninggalkan rasa malunya. Setelah itu, barulah majalah porno ini masuk ke Indonesia. Toh, walaupun mengaku sebagai majalah gaya hidup dan bukan semata-mata memajang wanita, tapi tetap saja ada gambar wanita dengan pakaian minim di dalamnya..

Banyak dalih melegalkan perbuatan maksiat terang-terangan mereka. Yang terjun di daerah nyerempet pornografi dan pornoaksi biasanya akan berdalih bahwa yang mereka lakukan adalah semata-mata atas nama seni. Pertanyaannya, lalu apa beda seni dan pornografi kalau keduanya mengundang syahwat?.

Mereka yang menolak RUU APP berdalih dengan kepedulian da kemanusiaan. Ada juga yang berdalih bahwa penerapan RUU itu akan menghapus keberagaman. Sebenarnya, jika diungkap, kebanyakan motif penolakannya adalah alasan materi. Artis yang berani buka-bukaan tentu bayarannya lebih tinggi daripada yang tidak. Artis yang begituan tentu juga lebih mendapat sorotan dan popularitas daripada yang biasa-biasa saja.


..... Baca Selengkapnya

Dialah Mutiara

Sosok wanita beserta sepak terjangnya memang tak habis untuk dibahas. Tentu saja, mengupas hal ini tidak bisa selalu dihukumi sama artinya mengumbar nafsu, seperti kata sebagian orang. Namun membicarakannya dalam rangka menilik pandangan dan tinjauan Islam tentang makhluk lembut ini dan segala aktivitasnya. Di satu sisi dalam rangka mengkritisi aktivitas kewanitaan yang sekarang lagi marak, di sisi lain dalam tema menjaga kedudukan mulianya. Tidaklah orang-orang pendahulu kita yang terkemuka dan terbaik melinkan dilahirkan dari perempuan-perempuan yang baik. Maka hendaknya, seorang wanita menjadi anak perempuan beradab, isteri yang taat dan seorang ibu yang bertakwa.

Meski hari ini semakin banyak wanita yang tak lagi mempedulikan kemuliannya, namun sosok wanita shaliha yang jumlahnya sedikit tetap saja tampil menyejukkan. Kebeningan fitrahnya tak luput dari impian setiap generasi. Mendambakan wanita yang shaliha adalah suatu keniscayaan. Karena jenis manusia yang ini menjadi perwujudan ideal dari makhluk yang dimuliakan bernama ‘Ibunda’. Sentuhan kasihnya benar-benar mengantarkan pada terwujudnya generasi mulia. Beragam problema, tak jarang menyeruak dalam bermuamalah dengannya. Tapi ibunda, bagaimanapun ada pahala yang selalu ananda harapkan dari berbakti kepadamu.





..... Baca Selengkapnya

Ibunda...

“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama
sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusui dengan air susunya dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotornmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya. Dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu disaat diasudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri atau suami dan anakmu daripada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu merawatnya padahal itu adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong sealinmu. Padahal Allah telah melarangmu berkata “Ah” dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Robbul’ aalamin.”

..... Baca Selengkapnya

Kata Bijak Hari Ini...

"Akal itu tak lebih daripada alat untuk mencari kebenaran"

..:: Sebelum Meninggalkan Web Ini Diharapkan Untuk Mengucapkan Salam ::..

Rhois Tekkom IPB 44 Add to Technorati Favorites